
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan SMP Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) dengan mengacu pada standar Cambridge. Sekolah ini disiapkan melalui perekrutan tenaga pengajar, pengembangan kurikulum, serta penyediaan perangkat dan fasilitas pembelajaran, dengan target menerima 90 siswa pada angkatan pertama.
Rektor UMY Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., menyampaikan pengembangan tersebut dalam acara Grand Launching penerimaan siswa baru SMP MSUS di Yogyakarta, Jumat (16/10/2026). Menurutnya, keseriusan menyiapkan sekolah baru itu terlihat dari perekrutan guru yang telah dilakukan sekitar dua bulan sebelum peluncuran.

“Guru sudah kita rekrut seperti Bapak, Ibu saksikan tadi sejak dua bulan yang lalu. Jadi, kami sangat serius dengan lembaga pendidikan yang baru kita dirikan ini,” ujar Achmad Nurmandi.


Ia menjelaskan, standar Cambridge yang direncanakan untuk MSUS tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ujian internasional. Standar tersebut juga akan menjadi acuan dalam pengembangan sistem pendidikan, termasuk kurikulum, perangkat pembelajaran, serta sarana dan prasarana sekolah.
“Standar Cambridge bukan hanya ujian Cambridge, tetapi standar Cambridge,” katanya.
Kurikulum dan Fasilitas MSUS Mengacu pada Standar Cambridge
UMY menyiapkan berbagai komponen pendidikan untuk mendukung arah pengembangan MSUS. Kurikulum dan perangkat pembelajaran menjadi bagian dari persiapan akademik, sedangkan sarana dan prasarana disiapkan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar.

Achmad menegaskan bahwa penerapan standar Cambridge direncanakan mencakup komponen pendidikan secara lebih luas, bukan hanya persiapan siswa menghadapi ujian internasional.
“Karena itu, kurikulum, perangkat, sarana dan prasarana itu distandarkan dengan standar Cambridge,” ujarnya.
Rencana tersebut menempatkan pengembangan sistem pembelajaran sebagai bagian penting dalam pendirian MSUS. Namun, rincian kurikulum Cambridge yang akan digunakan, tahapan implementasi, dan mekanisme penjaminan mutu sekolah belum dijelaskan secara terperinci dalam sambutan rektor.
UMY Perluas Kontribusi Pendidikan hingga Sekolah Menengah
Pendirian MSUS menjadi salah satu langkah UMY untuk memperluas kontribusinya dalam bidang pendidikan. Selain menyelenggarakan pendidikan tinggi, UMY turut mengembangkan layanan pendidikan pada jenjang dasar dan menengah.


Achmad mengatakan, pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan pilihan pendidikan yang lebih beragam bagi masyarakat.
“Kami berkontribusi tidak hanya pada pendidikan tinggi, tapi juga pendidikan dasar, pendidikan menengah,” katanya
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung pendirian MSUS. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan layanan pendidikan Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
UMY Dorong Muhammadiyah Kembangkan Sekolah Unggulan
Nurmandi menilai pengalaman Muhammadiyah dalam menyelenggarakan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas menjadi modal untuk mengembangkan sekolah unggulan.
Menurutnya, perubahan kebutuhan masyarakat mendorong penyelenggara pendidikan untuk menghadirkan layanan yang sesuai dengan harapan orang tua. Salah satu kecenderungan yang ia soroti adalah keinginan sebagian keluarga, terutama dari kalangan menengah ke atas, untuk memperoleh pendidikan dengan standar di atas standar nasional.
“Sekarang aspirasinya orang tua itu kan, terutama menengah ke atas, mencari sekolah-sekolah yang standar pendidikannya di atas standar nasional,” katanya.
Pengembangan MSUS karena itu tidak hanya diarahkan untuk menambah lembaga pendidikan Muhammadiyah, tetapi juga memperluas pilihan sekolah bagi masyarakat.
UMY Siapkan Rencana Sekolah Berbasis Pesantren di Kulon Progo
Selain mengembangkan MSUS di Sleman, UMY bersama sejumlah unsur Muhammadiyah juga merencanakan pendirian sekolah berbasis pesantren di Kabupaten Kulon Progo. Rencana tersebut akan melibatkan kerja sama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kulon Progo, dengan dukungan lahan dari pihak Muhammadiyah setempat.
Berbeda dari MSUS yang dikembangkan dengan orientasi standar Cambridge, sekolah di Kulon Progo direncanakan menggabungkan pendidikan formal jenjang SMP dan SMA dengan kegiatan pesantren.




“Kalau Wates itu berbasis pesantren, jadi ada SMP, SMA, cuma ada pondoknya juga,” ujar Nurmandi
Kedua rencana pengembangan itu menghadirkan pendekatan pendidikan yang berbeda. MSUS diarahkan pada pembelajaran dengan acuan standar global, sedangkan sekolah di Kulon Progo dirancang untuk memadukan pendidikan formal dengan pendidikan pesantren.
Dengan target penerimaan 90 siswa pada angkatan pertama, MSUS kini dipersiapkan melalui pengembangan kurikulum, perekrutan guru, dan penyiapan fasilitas pembelajaran.




